Belitung/Belitong atau sekarang lebih dikenal dengan Bumi Laskar Pelangi merupakan Kepulauan yang berada di timur pulau sumatera, termasuk dalam Provinsi Bangka Belitung. Akses untuk menuju ke Belitung cukup mudah. Anda bisa memilih jenis transportasi yang anda inginnkan yaitu melalui jalur darat (PELNI) atau jalur udara. Apabila anda memilih jalur udara, perjalanan menuju ke Belitung dari Jakarta hanya memakan waktu 45 menit.
Belitung memiliki banyak pulau-pulau kecil di sekelilingnya yang memiliki keindahan pantai serta formasi bebatuan yang unik ditambah keindahan-keindahan lainnya. berikut beberapa pulau dan objek wisata yang bisa ada kunjungi di Belitung:
Saving Coral Reefs Can Be Fun Pulau Pramuka-Kep.Seribu, 11-12 Mei 2013
Coral Day merupakan acara rutin tahunan yang diadakan oleh Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI) untuk memperingati Hari Terumbu Karang pada tanggal 8 Mei merupakan kegiatan peduli dan cinta lingkungan, laut pada khususnya yang terbuka untuk umum.
Terumbu karang mengalami tekanan dari aktivitas manusia, mulai dari hulu sampai ke hilir.Oleh sebab itu, adanya Coral Day dapat membantu mengurangi tekanan terhadap terumbu karang pada khususnya, dan ekosistem pesisir pada umumnya. Di sisi lain, masyarakat juga tidak merasa terbebani karena muatan-muatan pelestarian ekosistem dikemas dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Diharapkan, pasca pelaksanaan Coral Day, masyarakat yang terlibat akan menyebarkan kembali apa yang telah mereka alami dan lakukan agar dampaknya semakin lama semakin meluas
Terumbu karang, sebagai ekosistem, memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Banyak biota laut yang hidupnya bergantung pada ekosistem tersebut. Jenis-jenis biota yang umum dijumpai di perairan terumbu karang adalah:
1. Chordata (Sub Filum Tunicata)
2. Arthropoda
3. Echinodermata
4. Mollusca
5. Annelida
6. Nemertea
7. Platyhelminthes
8. Cnidaria
9. Porifera
Berikut akan dijelaskan beberapa filum yang umum dijumpai di ekosistem terumbu karang:
Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI) memiliki sebuah fasilitas berupa katalog digital dari Perpustakaan milik TERANGI. Fitur ini merupakan fasilitas yang diberikan kepada web-member TERANGI yang ingin mencari buku/makalah/prosiding/artikel/majalah yang berada di perpustakaan TERANGI. Perpustakan TERANGI memiliki koleksi 2000 buku yang dibagi dalam 13 kategori terdiri dari : Bahasa dan Sastra, Berita Kelautan, Ekologi dan Konservasi, Kebijakan, Kewirausahawan, Komunikasi dan Penjangkauan, Majalah IPTEK, Manajemen Pengetahuan, Manajemen Sumber Daya Pesisir dan Laut, Pendidikan dan Pelatihan, Penelitian, Sosial Ekonomi dan Teknologi.
Untuk mengakses katalog Perpustakaan di website TERANGI, ada di Menu Pengguna dengan submenu 'Perpustakaan'. Karena menu pengguna hanya untuk web-member TERANGI, maka jika anda ingin menggunakan fitur ini, anda diharuskan untuk mendaftar web-member terlebih dahulu. Silahkan Buka : Panduan Cara Mendaftar Web-member TERANGI
Coral Findermerupakan buku panduan lapangan yang dikeluarkan oleh CoralHub dengan fungsi sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi jenis karang sampai level Genus dengan 3 langkah cepat dan mudah untuk dimengerti. Coral Finder sangat cocok untuk pemula yang ingin belajar mengidentifikasi karang karena sistematis penggunaan Coral Finder ini cukup jelas dan mudah.
Coral Finder merupakan 'jembatan' antara Karang Hidup yang ada di perairan dengan Buku Taksonomi Karang 'Coral of The World' dari Veron yang terdiri dari 3 Volume. Coral Finder mempermudah penggunanya dengan meringkas genus-genus karang sebanyak kurang lebih 66 Genus di daerah Indo-Pasific kedalam suatu buku panduan jenis karang yang bisa dibawa ke dalam air.
Toolkit Coral Finder terdiri dari:
Buku Identifikasi Karang sebagai alat utama dalam pengidentifikasi yang juga terdapat papan tulis serta alat ukur dibagian atas buku.
Hook/Pengait sebagai pengikat buku Coral Finder dengan tali yang berguna agar saat terlepas dari tangan, Coral Finder tidak hanyut atau hilang karena terkena arus.
Kaca Pembesar sebagai alat bantu dalam melihat lebih jelas untuk mengukur besar koralit dari karang yang sedang kita amatii.
Penggaris/Alat Pengukur sebagai alat pengukur besar/lebar dari koralit karang yang kita amati.
Statistik perikanan tangkap indonesia 2010, kementrian kelautan dan perikanaan RI-Dirjen Perikanan Tangkap berhasil mendata sekitar 90 jenis ikan konsumsi yang dimanfaatakan di DKI Jakarta
Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kepulauan Seribu tahun 2010 berhasil mendata sekitar 280 jenis ikan hias laut yang dimanfaatankan di Kepulauan Seribu.
Koleksi biota ornamental baik itu dalam keadaan hidup atau mati akan selalu ada permintaan karena keindahan dan keunikannya sehingga orang berkenginan untuk memiliki baik sekedar untuk hiasan atau sebagai hobi. Indonesia sebagai Negara yang mempunyai keanekaragaman bioata yang tinggi memnjadi supplier/penyalur paling potensial di perdagangan ini.
Namun, situasi untuk saat ini masih terdapat pro dan kontra yang sangat kuat terkait perdagangan biota ornamental. Kekhawatiran mayoritas datang dari pemerhati lingkungan, NGO dan peneliti. Pemanfaatan yang belum setimbang dengan pengelolaan menjadi kekhawatiran paling utama dimana belum semua rantai perdagangan memegang tanggung jawab, ekstraksi yang tinggi belum didasari informasi bioekologi dan pemanfaatan intensif mengundang kekhawatiran akan kondisi terumbu karang.
Dilain pihak, pemerintah juga belum bisa berbuat banyak. BKSDA sebagai Pengawas di lapangan masih lemah, selain itu terlalu banyak jenis SDA yang diurusi oleh BKSDA, ikan ornamental hanya sebagian kecilnya saja. Bea cukai sebagai penjaga pintu terakhir ekspor dan penjaga pintu awal impor dihadapkan pada masalah tidak mengerti tentang spesies CITES.
Kode Etik Pramuwisata ini dibuat agar tiap-tiap pramuwisata yang bergerak dibidang pelayanan jasa dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar seusai dengan Kode Etik, etika umum pemandu, peraturan yang berlaku, prosedur keselamatan, dan prinsip dampak negatif yang minimal.
Secara garis besar, Kode Etik Pramuwisata mencakup beberapa poin dibawah ini:
1. Aktivitas pemanduan ekowisata sehari-hari dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang mengatur industri.
2. Pemanduan dilaksanakan sesuai dengan Kode Etik Pramuwisata dan etika umum pemandu.
3. Pemanduan dilaksanakan sesuai dengan prosedur keselamatan dan dengan cara yang meminimalkan resiko pada wisatawan ataupun rekan sejawat.
4. Pemanduan dilaksanakan dengan cara yang meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sosial dan lingkungan alam.
Kode Etik Pramuwisata Indonesia ditetapkan melalui Keputusan Musyawarah Nasional I Himpunan Pramuwisata Indonesia dengan Keputusan Nomor 07/MUNAS.I/X/1988, meliputi hal-hal sebagai berikut:
Pemandu Wisata atau Pramuwisataadalah orang yang pertama kali dijumpai oleh wisatawan dalam rangka mewujudkan harapan dan impian atas tour yang telah dibayarnya. Wisatawan bagaikan seorang bocah kecil di tengah hiruk pikuknya pasar. Ia tidak tahu harus melangkah kemana, ia membutuhkan bimbingan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Adalah tugas Pramuwisata untuk menemani, mengarahkan, membimbing, menyarankan wisatawan di tengah-tengah ketidaktahuannya itu. Wajarlah jika wisatawan mempercayakan aktivitasnya kepada Pramuwisata, karena ia yang lebih tahu dan berpengalaman. Maka jadilah Pramuwisata itu sebagai teman perjalan bagi wisatawan. Sebagai teman yang baik maka akan sangat ironi jika seorang pramuwisata memanfaatkan ketidaktahuan wisatawan untuk mengail keuntungan untuk diri sendiri, misalnya dengan menaikan harga barang yang dibeli wisatawan, memaksa untuk memberikan imbalan lebih, dan sebagainya.
Dalam skala yang lebih luas pramuwisata adalah duta bangsa atau setidaknya duta daerah tempat ia melakukan tugasnya. Apa yang diekspresikan oleh pramuwisata dianggap oleh wisatawan sebagai cerminan karakter masyarakat setempat, demikian pula apa yang disampaikan oleh pramuwisata akan dipercaya oleh wisatawan sebagai pengetahuan yang akan selalu diingat hingga kembali ke tempat asal. Mengingat hal tersebut, maka seorang pramuwisata hendaknya dapat memberikan informasi dengan benar dan baik menyangkut negara, kota, maupun suatu desa, objek wisata, budaya, dan lain sebagainya.
Untuk menjadi pemandu wisata yang baik sehingga dapat memuaskan wisatawan yang datang, diperlukan suatu pelayanan atau sikap yang memenuhi standar pelayanan minimal untuk menjadi pemandu wisata yang baik. Berikut beberapa SOP Pelayanan Pemandu Wisata terhadap Wisatawan: