Sample Sidebar Module

This is a sample module published to the sidebar_top position, using the -sidebar module class suffix. There is also a sidebar_bottom position below the menu.
Login
Register

Sample Sidebar Module

This is a sample module published to the sidebar_bottom position, using the -sidebar module class suffix. There is also a sidebar_top position below the search.
Beranda

Masyarakat

Meningkatkan kapasitas masyarakat sesuai dengan perannya dalam pengelolaan terumbu karang Indonesia 

Lebih lanjut

Menginspirasi

Menginspirasi serta meningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang Indonesia
Lebih lanjut

Pusat Pengetahuan

Pusat Pengetahuan Terumbu Karang Indonesia Tersedia disini 
Lebih lanjut

Donasi

Tunjukkan kontribusimu terhadap terumbu karang.
Donasi
  • fr-FR
  • English (UK)
Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), meluncurkan Obligasi Ritel Indonesia seri ORI012. Tema yang diusung pada ORI012 adalah “Terumbu Karang, Investasi Masa Depan” yang melanjutkan kepedulian kepada lingkungan seperti seri ORI sebelumnya. Dari penjual ORI012, sebagian hasil akan disisihkan untuk pelestarian terumbu karang di wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta.



Yayasan TERANGI sebagai pemegang amanat untuk melaksanakan rehabilitasi terumbu karang di Kepulauan Seribu. Secara garis besar kegiatan rehabilitasi ekosistem terumbu karang yang diusulkan meliputi beberapa tahapan. Tahapan tersebut adalah (1) penentuan lokasi kegiatan, (2) pembuatan media rehabilitasi yang sesuai, (3) pemasangan media rehabilitasi, (4) perawatan dan evaluasi. 



Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah penghasil timah terbesar di dunia. Pemerintah Daerah Bangka Belitung, dengan kewenangan otonomi yang dimiliki mengeluarkan Perda No. 6 Tahun 2001 tentang pertambangan umum, membuka kesempatan bagi masyarakat Bangka mengeksploitasi timah ini secara bebas. Dampak kebijakan tersebut menyebabkan tambang inkonvensional semakin marak. Dampak kerusakan ekosistem akibat pertambangan timah Bangka Belitung berupa kolam-kolam bekas tambang, hilangnya keanekaragaman hayati, dan berkurangnya vegetasi. Setelah daratan penuh lubang tambang, maka terjadi pembukaan lahan tambang timah di daerah pesisir, dan lahan tambang telah merambah ke kawasan hutan mangrove dan hutan pantai. Hilangnya hutan mangrove dan hutan pantai berkontribusi secara tidak proporsional dengan emisi karbon, hilangnya keanekaragaman hayati, dan meningkatkan kerentanan penduduk pantai. 

Karena itu konservasi ekosistem ini adalah kunci untuk melawan perubahan iklim. Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil, seperti Provinsi Bangka Belitung, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Hal ini karena, pertama, kapasitas adaptasi masyarakat di pulau-pulau kecil relatif lebih lemah akibat keterbatasan sarana prasarana pendukung, tingkat pendidikan serta jauh dari jangkauan layanan administrasi dan social. Kedua, proyeksi kenaikan paras muka air laut akan meningkatkan erosi pulau-pulau kecil, kehilangan lahan produktif yang relatif terbatas, meningkatkan resiko badai, dan instrusi air laut yang mengganggu suplai air bersih di pulau. Dampak perubahan iklim yang sudah terlihat dan diperkirakan akan makin sering terjadi di Indonesia adalah meningkatnya tingkat kekeringan, banjir, kebakaran, pemutihan karang, naiknya muka air laut, hingga cuaca ekstrim. Selain itu, terdapat pula ancaman bagi produksi perikanan, pariwisata, dan infrastruktur. 

Di satu sisi, Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung telah menetapkan Pencadangan Kawasan Konservasi melalui SK Bupati Nomor 188.45/156.A/KEP/DKP/2014 yang meliputi Pulau Lengkuas, Pulau Peling, Pulau Pelma, Pulau Selema dan laut sekitarnya dengan luas ± 662.984 ha. Tujuan pencadangan tersebut adalah untuk mengelola kegiatan pariwisata, perikanan, dan aktivitas lainnya agar keberlanjutan sumberdaya dapat terjamin. Masyarakat yang terbiasa melakukan pemanfaatan di dalam kawasan tersebut perlu mengubah cara pemanfaatan menjadi ramah lingkungan. Selain itu, pelibatan masyarakat dalam kawasan konservasi menjadi salah satu kunci sukses pengelolaan yang efektif.

Pemerintah Belitung juga menargetkan jumlah kunjungan mencapai 100 ribu orang per tahun. Tingginya jumlah kunjungan memerlukan pengelolaan pariwisata yang hati-hati agar kegiatan pariwisata menjadi berkelanjutan. Selain itu, diperlukan pula perbaikan lingkungan dan ekosistem baik sebagai daya tarik maupun untuk mendukung kegiatan wisata.

Oleh sebab itu, Yayasan TERANGI mengusulkan untuk mengembangkan Belitung mangrove park (BMP), yang merupakan strategi rehabilitasi hutan mangrove dengan memanfaatkan lahan bekas tambang di Desa Juru Sebrang, Kabupaten Belitung, dalam mengurangi dampak perubahan iklim kepada ekosistem dan masyarakat pesisir. BMP berbentuk taman wisata mangrove yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sebagai destinasi ekowisata, pendidikan, sumber matapencaharian (pelaku wisata dan budidaya) dan sekuestrasi karbon di masa depan. BMP akan mendukung upaya konservasi di KKPD Belitung dan taman hutan raya. Survei dan pemetaan yang dilakukan pada awal penerapan BMP akan disetorkan pula kepada Badan Informasi Geospasial untuk mendukung pemetaan Mangrove Nasional.



Informasi kemajuan tersedia disini: https://www.facebook.com/belitungmangrovepark/


Pulau Sangiang terletak di Selat Sunda, yakni antara Jawa dan Sumatra. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten. Terletak di titik kordinat antara 105′49′30″ - 105′52′ Bujur Timur 5′56′ - 5′58′50″ Lintang Selatan. Jarak tempuhnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit dari Anyer, dengan menggunakan kapal atau perahu bermotor. Potensi keanekaragaman hayatinya terdapat di kawasan daratan, pantai dan laut.
Pulau Sangiang yang sekarang dijadikan Taman Wisata Alam pada awalnya merupakan Cagar Alam seluas 700,35 Ha Kemudian pada tahun 1991 perairan di sekitar kawasan diubah menjadi Taman Wisata Alam Laut seluas 720 ha. Pada tanggal 8 Februari 1993 melalui SK Menteri Kehutanan No. 55/Kpts-II/1993 kawasan Cagar Alam diubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam dengan luas 528,15 ha. Taman Wisata Alam Pulau Sangiang terletak di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Indonesia. Dari Kota Serang, Ibu Kota Provinsi Banten, Pulau dengan luas kurang lebih 700 ha. Di kawasan ini, terdapat berbagai flora langka, seperti cemara laut (Casuarina equisetifolia), dadap laut (Erithrina variegata), bayur (Pterospermum javanicum), ketapang (Terminalia catappa), nyamplung (Callopphyllum inoplhylum), api-api (Avicenia sp), waru laut (Hibiscus tiliaceus), walikukun (Actinophora fragrans), dan lain sebagainya.

Kawasan Pulau Sangiang banyak dimanfaatkan untuk wisata selam. Sayangnya, tingginya sedimentasi yang diikuti pelemparan jangkar secara sembarangan membuat kondisi terumbu karang Pulau Sangiang rusak. Oleh sebab itu PT. Asahimas Chemicals, Yayasan KEHATI, dan Yayasan TERANGI bekerjasama untuk melakukan rehabilitasi terumbu karang. Salah satu cara penyelamatan terumbu karang secara fisik adalah  melalui pembuatan terumbu karang buatan (artificial reef). Terumbu karang buatan adalah suatu struktur buatan manusia yang berfungsi sebagai tempat berlindung, tempat mencari makanan dan tempat pemijahan bagi hewan-hewan laut.  Terumbu karang buatan biasanya berupa struktur yang kokoh dengan relung-relung.

Luaran/Output Kegiatan:
  • Adanya laporan dan data periodik kegiatan rehabilitasi terumbu karang dan konservasi jenis karang serta species lain dan monitoringnya sebagai implementasi dukungan program PROPER. 
  • Pengembangan program riset lapangan adopsi karang yang di dukung oleh PT. Asahimas Chemical bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Serang, Sub Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat Seksi Serang dan Yayasan KEHATI.
  • Adanya 2 kawasan rehabilitasi terumbu karang seluas masing-masing 50 m2 di Pulau Sanghyang sebagai kawasan pelestarian keanekaragaman hayati terumbu karang yang diisi oleh 12 terumbu buatan.
  • Meningkatnya kapasitas karyawan PT. Asahimas Chemical dalam pelibatan kegiatan lingkungan khususnya monitoring biodiversity terumbu karang.
Pusat PengetahuanTersedia disini

Hubungi kami

Jalan Asyibaniah No. 105-106, RT. 03/RW.01,
Pd. Jaya, Cipayung, Kota Depok,
Jawa Barat 16438
Indonesia